Skip to main content

Juni Tak Pernah Berharap Hujan Datang

Juni tak pernah perhatian tentang teduh yang menyelimuti matamu
Ia hanya peduli dengan ujian akhir-nya yang menguras tenaga
Bahkan bila kau meneleponnya saat lewat tengah malam, masih didengarnya

Juni tak pernah mau tahu tentang siapa yang menggenggam tanganmu tadi malam
Sekalipun kau datang dan menangis, takkan ia berpaling walau sepersekian detik
Ia terus bersandar pada kursi

Juni selalu ingin rindunya segera musnah
Tak peduli seberapa kuat kau bertahan hingga jera
Ia tak pernah menganggapmu ada
Meski jam leleah berputar temanimu menunggunya

Juni tak kan pernah sadar kau duduk disampingnya
Ia hanya akan menantap ke luar jendela yang basah

Juni tak pernah berharap hujan datang padanya

Comments

Popular posts from this blog

BEDA BADAN, BEDA LAGU

Hei hei hei temaans, kalian pernah gabung ke suatu komunitas? Grup? ataupun apalah namanya. yang pasti disana terdapat banyak orang dengan karakter berbeda-beda. Bagaimana rasanya? kalian betah? sebenarnya saya tidak peduli kalian mau betah disana atau tidak. Karena itu urusan kalian. OKAY, kali ini saya akan sedikit cerita tentang salah satu...

Sapardi Tak Mendegarku

"tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni" begitu kata Sapardi Sapardi tak tahu setabah apa diriku. berdiri diatas benang bergoyang. ditambah harus ikhlas ditinggalkan―olehmu Ia tak lihat seberapa hapir gilanya aku yang tiap hari menangis diatas peti-mu Sekalipun jasadmu tak menghuninya "dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu" Aku melakukan hal yang sama Kini rinduku menjadi pedang bagiku sendiri Mungkin sebentar lagi akan memenggal kepala tuannya "tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu" Sapardi, hujan bulan juni-ku tak seindah larik sajakmu Suram, seperti yang dikatakan orang-orang di hadapanku Menggerus senyum "tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu "  kalimatku hanya terpenjara di tenggorokan Aku hampir mati melumat kalimatmu, mungkin aku akan b...

Cinta Alon-Alon

July memarkirkan mobilnya di sebuah kedai kopi yang biasa ia singgahi sehabis pulang kerja. Dulu Martin yang mengenalkannya pada kedai itu. Martin memang pecinta kopi. Ia ingat sekali ketika dirinya, Banyu dan Riana pertama kali kesini. Saat kedai ini menjadi saksi awal kedekatannya gengan pria itu. Ketika Martin mulai memanggilnya dengan sebutan sayang. July juga akan mendatangi tempat ini ketika ia merindukan pria yang masih ia cintai itu. Juga masih lekat di ingatannya ketika ia memergoki Martin berkencan dengan seorang wanita disini. Saat itu ia baru pulang dari kantornya. Ia sengaja mampir ke kedai tersebut untuk sekedar makan malam. Tapi nafsu makannya hancur sudah ketika