Skip to main content

Posts

Showing posts with the label jatuh cinta

Memperbarui Hati

             Aku selalu antusias dengan lembaran baru. Dimana ada sebuah ketas kosong yang pucat. Aku ingin menghiasnya dengan tinta dan cerita. Aku ingin tulisan itu memiliki warna dan cerita sendiri: tentang dirimu. Ya, kau yang telah lama membuatku jatuh cinta. Aku sudah lama menantimu. Menunggu kau datang dengan ikhlas dan dengan sendirinya tanpa perlu kurayu, tak harus kupaksa dan terselimut aura dengan aroma cinta, lalu mengulurkan tanganmu dihadapanku, membuatku kaget, dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Hal yang lama kunanti. Entah kapan itu akan terjadi, Rama. Aku masih bisa menunggumu untuk beberapa lama. Oh iya, aku ingin minta sesuatu padamu. Jangan datang saat aku mencoba keluar dari zona nyamanku yang satu ini, ya. Aku ingin mencari rasa yang baru, walaupun tak bersamamu. Atau mungkin yang lebih pantas disebut “saat aku mulai bosan menantimu”. Kau sudah lama dengan Liza, bukan? Aku sangat menunggu waktu saat kalian berdua saling menin...

Cara Senja Menjawab Cinta

Beberapa kali aku membolak balikkan tubuhku diatas kasur sambil memejamkan mata, tapi percuma. Masih saja tak kukenal kantuk sedikitpun. Jam digital yang terpajang apik diatas meja sudah menunjukkan pukul 03:45. Aku tahu, Senja yang telah menyita rasa kantukku. Benarkah? secepat itu? ini bisa saja terjadi. Senja? Ya, gadis yang baru kuajak kenalan di perpustakaan tadi siang. Gadis yang sebelumnya ku sebut anak sastra indonesia. Bagaimana tidak, sejak pertama kali aku melihat gadis itu, jelas-jelas ia sedang membaca buku-buku sastra. Ternyata aku salah, Senja adalah mahasiswi psikologi semester 2. Tapi mengapa ia membaca buku tentang sastra? Penelusuranku belum sampai sana.

Jatuh Cinta

Aku ingin jatuh cinta. Ya. Aku ingin jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali. Tanpa aku merasa resah, rasa ini menjadi berkurang dan berangsur menghilang. Memudar seiring waktu, menghilang tanpa jejak, hangus tak berbekas, tak terasa lagi. Aku ingin jatuh cinta pada waktu ketika kau tersenyum. Membuat duniaku berhenti sesaat. Merasakan sesuatu yang tak terkatakan, dan aku yang menentukan kapan waktu boleh berputar kembali. Demi terus melihat senyumnya. Bagiku, cinta itu tak perlu muluk-muluk. Tak perlu dia membuatkan masakan untukku setiap hari. Cukuplah sebaris kata, “selamat pagi” setelah mentari menyapa bumi. Menghangatkan hati yang terkadang beku oleh sinisnya malam hari. Lebih dari cukup, lukisan senyum dan sapaan, “selamat siang” , ketika fajar pergi dan berganti riuh manusia-manusia yang terjebak dunia serta segala keangkuhannya. Ketika senja tiba, kau tak perlu datang dengan banyak kata, cukup hadirmu saja, itu sudah lebih dari cukup. Aku terlalu melankolis ba...