Skip to main content

Posts

Showing posts with the label fiksi

Titip Doaku, Bil

Hai, Bil. Bagaimana kabarmu sekarang? Baik kah? Buruk kah? Aku ikut berduka atas apa yang terjadi. Aku tak bisa datang, akhir-akhir ini bos ku begitu kejam. Aku lembur hampir setiap hari. Bil, jangan bersedih, aku tahu rasanya seberapa sakitnya sebuah kehilangan. Aku juga pernah mengalaminya. Kau tahu itu, tentu saja. Jangan berhenti, Bil. Teruslah berjalan, hingga tak kau rasakan lagi bagaimana lelahnya, hingga tak kau sadari bagaimana peluhmu mengering kusami wajahmu , atau bahkan tak kau kenal lagi cara menangis. Itulah caraku menghilangkan rasa kehilangan yang kualami. Aku hanya berbagi. Cobalah jalani. Jangan berhenti. Jika kau lelah, ingat, kau tak punya banyak waktu untuk perjalanan panjang ini. Ohya, bagaimana kabar ayah dan ibu?sudah lama sekali aku tak mencicipi masakan ibu, aku hampir saja lupa rasanya. Kau bisa hitung berapa lama aku tak menginjak rumah itu lagi. Tapi tenag, aku telah menyimpannya, untuk berjaga-jaga jika saja aku lupa. Bagamiana dengan ayah? Kudenga...

Maaf: Balasan Untuk Dygta

Cerita Sebelumnya:  Pertanyaan Untuk Fa Kabarku baik, Dygta. Aku juga selalu berharap kau baik-baik saja. Tidak, sekarang aku kembali tinggal di Jogja. Waktu itu aku hanya berlibur disana. Maaf, Dygta. Aku tahu itu hal yang salah. Pergi diam-diam darimu. Sebenarnya juga berusaha pergi diam-diam dari hatimu. Maaf. Ada alasan yang sangat ingin kuberitahu padamu waktu itu. Kau terlalu sayang padaku. Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku. Aku takut tak bisa membalas semua yang kau beri.

Pertanyaan Untuk Fa

Hai Fa, apa kabar? Dimana kau sekarang? Bagaimana rupamu sekarang? Kata Andra ia pernah melihatmu di sebuah kafe di Bandung baru-baru ini. Apakah kau tinggal disana? Seperti faktanya, dua tahun lalu kau pergi tanpa pesan. Menghilang begitu saja. Kau tak berpamitan dengan siapapun. Kau tahu seperti apa aku jadinya?

Waktu Tidak Tepat

Laras Sudah hampir satu bulan Jogja membuatku nyaman. Pohon-pohon angsana yang menaungi jalan-jalannya juga masih begitu ramah. Setiap pagi aku menghampiri shelter di dekat lapangan mandala krida, menunggu transjogja untuk berangkat ke jalan sagan. Dari awal menapakkan kaki disini, aku merasa ada hal yg mengganjal. Hingga hari ini kita tidak sengaja bertemu. Atau mungkin memang sengaja dipertemukan.

Memperbarui Hati

             Aku selalu antusias dengan lembaran baru. Dimana ada sebuah ketas kosong yang pucat. Aku ingin menghiasnya dengan tinta dan cerita. Aku ingin tulisan itu memiliki warna dan cerita sendiri: tentang dirimu. Ya, kau yang telah lama membuatku jatuh cinta. Aku sudah lama menantimu. Menunggu kau datang dengan ikhlas dan dengan sendirinya tanpa perlu kurayu, tak harus kupaksa dan terselimut aura dengan aroma cinta, lalu mengulurkan tanganmu dihadapanku, membuatku kaget, dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Hal yang lama kunanti. Entah kapan itu akan terjadi, Rama. Aku masih bisa menunggumu untuk beberapa lama. Oh iya, aku ingin minta sesuatu padamu. Jangan datang saat aku mencoba keluar dari zona nyamanku yang satu ini, ya. Aku ingin mencari rasa yang baru, walaupun tak bersamamu. Atau mungkin yang lebih pantas disebut “saat aku mulai bosan menantimu”. Kau sudah lama dengan Liza, bukan? Aku sangat menunggu waktu saat kalian berdua saling menin...

Cara Senja Menjawab Cinta

Beberapa kali aku membolak balikkan tubuhku diatas kasur sambil memejamkan mata, tapi percuma. Masih saja tak kukenal kantuk sedikitpun. Jam digital yang terpajang apik diatas meja sudah menunjukkan pukul 03:45. Aku tahu, Senja yang telah menyita rasa kantukku. Benarkah? secepat itu? ini bisa saja terjadi. Senja? Ya, gadis yang baru kuajak kenalan di perpustakaan tadi siang. Gadis yang sebelumnya ku sebut anak sastra indonesia. Bagaimana tidak, sejak pertama kali aku melihat gadis itu, jelas-jelas ia sedang membaca buku-buku sastra. Ternyata aku salah, Senja adalah mahasiswi psikologi semester 2. Tapi mengapa ia membaca buku tentang sastra? Penelusuranku belum sampai sana.

Jatuh Cinta

Aku ingin jatuh cinta. Ya. Aku ingin jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali. Tanpa aku merasa resah, rasa ini menjadi berkurang dan berangsur menghilang. Memudar seiring waktu, menghilang tanpa jejak, hangus tak berbekas, tak terasa lagi. Aku ingin jatuh cinta pada waktu ketika kau tersenyum. Membuat duniaku berhenti sesaat. Merasakan sesuatu yang tak terkatakan, dan aku yang menentukan kapan waktu boleh berputar kembali. Demi terus melihat senyumnya. Bagiku, cinta itu tak perlu muluk-muluk. Tak perlu dia membuatkan masakan untukku setiap hari. Cukuplah sebaris kata, “selamat pagi” setelah mentari menyapa bumi. Menghangatkan hati yang terkadang beku oleh sinisnya malam hari. Lebih dari cukup, lukisan senyum dan sapaan, “selamat siang” , ketika fajar pergi dan berganti riuh manusia-manusia yang terjebak dunia serta segala keangkuhannya. Ketika senja tiba, kau tak perlu datang dengan banyak kata, cukup hadirmu saja, itu sudah lebih dari cukup. Aku terlalu melankolis ba...

Hai Sandra: Curhatan untuk Tami

Cerita Sebelumnya:  Hai, Sandra : Kita Sahabat Selamanya Aku menulis sebuah draft email yang belum akan kukirim pada Tami. aku ingin mengirimnya, tapi aku takut sama seperti email-email sebelumnya. tak ada balasan. ya, aku sudah berkali-kali mengirim email padanya, tapi tak pernah kudapat sebuah balasan. semenjak Tami bertolak, ia baru sekali membalas emailku. itupun butuh waktu 2 minggu bagiku menunggu balasan darinya. aku tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. mungkin ia sedang sibuk disana, jadi ia tak sempat membalas emailku. aku hanya mencoba berpikir positif saja. aku mulai merangkai alfabet untuk Tami baca. banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya: "seperti apa kabar? gimana disana? makanannya? orang-orang sana gimana? lu tinggal sama siapa aja? ada orang Indonesia juga?" dan satu pertanyaan penting yang selalu kutanyakan pada tami lewat kata-kata dalam hati, "kapan pulang?". aku juga ingin cerita banyak hal. mengenai sekolahku disini, tem...

kurasa, aku tak perlu ...

Seharusnya aku tak berharap banyak dengan hubungan ini. aku telah salah dengan semua hati yang kau titipkan, namun akhirnya kau ambil lagi tanpa izin dariku. aku sudah tak percaya dengan semua teori jatuh cinta. itu kesalahan pertama yang kubuat: percaya pada pandangan mata. cinta itu bukan hanya masalah 'dari mata turun ke hati' dimana kata otak sama sekali tak berperan disana. tapi bukankah otak dan hati adalah partner kerja yang solid? aku terus mempermasalahkan hal yang dibantah semua orang.

Hai, Sandra : Kita Sahabat Selamanya

sambungan dari  Hai, Sandra Semua pendaftaran dan admisintrasi di SMA yang ku inginkan itu sudah beres, aku sudah resmi diterima disana. Hanya menunggu waktu MOS, yaitu minggu depan. aku mulai dagdigdug. Semua khayalan tentang dunia SMA yang indah itu sudah berkecamuk dalam oktakku. membayangkan menjadi seorang Sandra yang dewasa, punya banyak teman, hangout dengan siapa saja tanpa ada perasaan khawatir seperti yang kurasakan sembilan tahun belakangan. sembilan tahun yang *ehhem cukup menyedihkan dan tentunya membosankan. masa kecil yang sangat serius, dengan kebahagiaan yang limit. Tidak seperti yang dilakukan anak-anak seusiaku pada saat itu. pergi sekolah, aku diantar, ditunggu sampai bel pulang sekolah, langsung pulang kerumah. coba kalian bayangkan, aktivitas yang sama di setiap hari selama 9 tahun. bayangkan,

Cinta Alon-Alon

July memarkirkan mobilnya di sebuah kedai kopi yang biasa ia singgahi sehabis pulang kerja. Dulu Martin yang mengenalkannya pada kedai itu. Martin memang pecinta kopi. Ia ingat sekali ketika dirinya, Banyu dan Riana pertama kali kesini. Saat kedai ini menjadi saksi awal kedekatannya gengan pria itu. Ketika Martin mulai memanggilnya dengan sebutan sayang. July juga akan mendatangi tempat ini ketika ia merindukan pria yang masih ia cintai itu. Juga masih lekat di ingatannya ketika ia memergoki Martin berkencan dengan seorang wanita disini. Saat itu ia baru pulang dari kantornya. Ia sengaja mampir ke kedai tersebut untuk sekedar makan malam. Tapi nafsu makannya hancur sudah ketika

Sepinisme adalah Dewa Amor Kita

Dean   menghempaskan tubuhnya pada bangku panjang di kantin sekolah. Tak seperti meja lain yang ramai, ia hanya seorang diri disana. Di seberang mejanya terdapat sekelompok anak laki-laki. Anak kelas 3. Ia tak sedikitpun hirau akan itu. Diantara anak laki-laki itu ada seseorang yang curi-curi pandang padanya. Sonic. Mantan ketua osis. Pria yang sudah lama 'mengincar' Dean. Ia tak pernah menyadarinya.

Hai, Sandra

H ai, namaku Sandra. Ayahku seorang direktur sebuah peusahaan garment terkenal, sedangkan mama adalah seorang guru di sebuah SMA Negeri yang cukup favorit disini. Aku berumur 15 tahun. Aku punya seorang kakak laki laki, namanya Zakky. Dia sedang kuliah di Sidney, jurusan bisnis. Itu dipilihnya agar dia bisa ngelanjutin usaha ayah. Oke, cerita ini adalah tentang aku dan kehidupan ku. Sekarang aku baru lulus SMP. Dari TK aku sudah sekolah di sekolah swasta, maka aku meminta ke ayah untuk disekolahkan di SMA Negeri. Tok..tok..tok..