Skip to main content

Posts

Cara Senja Menjawab Cinta

Beberapa kali aku membolak balikkan tubuhku diatas kasur sambil memejamkan mata, tapi percuma. Masih saja tak kukenal kantuk sedikitpun. Jam digital yang terpajang apik diatas meja sudah menunjukkan pukul 03:45. Aku tahu, Senja yang telah menyita rasa kantukku. Benarkah? secepat itu? ini bisa saja terjadi. Senja? Ya, gadis yang baru kuajak kenalan di perpustakaan tadi siang. Gadis yang sebelumnya ku sebut anak sastra indonesia. Bagaimana tidak, sejak pertama kali aku melihat gadis itu, jelas-jelas ia sedang membaca buku-buku sastra. Ternyata aku salah, Senja adalah mahasiswi psikologi semester 2. Tapi mengapa ia membaca buku tentang sastra? Penelusuranku belum sampai sana.

Jatuh Cinta

Aku ingin jatuh cinta. Ya. Aku ingin jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali. Tanpa aku merasa resah, rasa ini menjadi berkurang dan berangsur menghilang. Memudar seiring waktu, menghilang tanpa jejak, hangus tak berbekas, tak terasa lagi. Aku ingin jatuh cinta pada waktu ketika kau tersenyum. Membuat duniaku berhenti sesaat. Merasakan sesuatu yang tak terkatakan, dan aku yang menentukan kapan waktu boleh berputar kembali. Demi terus melihat senyumnya. Bagiku, cinta itu tak perlu muluk-muluk. Tak perlu dia membuatkan masakan untukku setiap hari. Cukuplah sebaris kata, “selamat pagi” setelah mentari menyapa bumi. Menghangatkan hati yang terkadang beku oleh sinisnya malam hari. Lebih dari cukup, lukisan senyum dan sapaan, “selamat siang” , ketika fajar pergi dan berganti riuh manusia-manusia yang terjebak dunia serta segala keangkuhannya. Ketika senja tiba, kau tak perlu datang dengan banyak kata, cukup hadirmu saja, itu sudah lebih dari cukup. Aku terlalu melankolis ba...

Hai Sandra: Curhatan untuk Tami

Cerita Sebelumnya:  Hai, Sandra : Kita Sahabat Selamanya Aku menulis sebuah draft email yang belum akan kukirim pada Tami. aku ingin mengirimnya, tapi aku takut sama seperti email-email sebelumnya. tak ada balasan. ya, aku sudah berkali-kali mengirim email padanya, tapi tak pernah kudapat sebuah balasan. semenjak Tami bertolak, ia baru sekali membalas emailku. itupun butuh waktu 2 minggu bagiku menunggu balasan darinya. aku tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. mungkin ia sedang sibuk disana, jadi ia tak sempat membalas emailku. aku hanya mencoba berpikir positif saja. aku mulai merangkai alfabet untuk Tami baca. banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya: "seperti apa kabar? gimana disana? makanannya? orang-orang sana gimana? lu tinggal sama siapa aja? ada orang Indonesia juga?" dan satu pertanyaan penting yang selalu kutanyakan pada tami lewat kata-kata dalam hati, "kapan pulang?". aku juga ingin cerita banyak hal. mengenai sekolahku disini, tem...

kurasa, aku tak perlu ...

Seharusnya aku tak berharap banyak dengan hubungan ini. aku telah salah dengan semua hati yang kau titipkan, namun akhirnya kau ambil lagi tanpa izin dariku. aku sudah tak percaya dengan semua teori jatuh cinta. itu kesalahan pertama yang kubuat: percaya pada pandangan mata. cinta itu bukan hanya masalah 'dari mata turun ke hati' dimana kata otak sama sekali tak berperan disana. tapi bukankah otak dan hati adalah partner kerja yang solid? aku terus mempermasalahkan hal yang dibantah semua orang.

Cinta Alon-Alon - II

Sambungan dari:  Cinta Alon-Alon “Halo.” Banyu mengangkat telpon yang menghampiri ponselnya. “Halo. Ini Banyu?” Seorang pria bicara diujung sana. “Iya, bener. Ini siapa, ya?” Tanyanya. “Ini gue, Martin.” Jawab pria itu. “Ooh, lo Tin. Udah di Jakarta ya?” Tanya Banyu antusias. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. “Iya, gue udah 2 hari disini. Malem ini cabut, yuk!” “Boleh, boleh. Nanti lo kerumah gue aja. Masih inget dong?” “Ya masih lah. Oke, ntar malem, ya.”

Hai, Sandra : Kita Sahabat Selamanya

sambungan dari  Hai, Sandra Semua pendaftaran dan admisintrasi di SMA yang ku inginkan itu sudah beres, aku sudah resmi diterima disana. Hanya menunggu waktu MOS, yaitu minggu depan. aku mulai dagdigdug. Semua khayalan tentang dunia SMA yang indah itu sudah berkecamuk dalam oktakku. membayangkan menjadi seorang Sandra yang dewasa, punya banyak teman, hangout dengan siapa saja tanpa ada perasaan khawatir seperti yang kurasakan sembilan tahun belakangan. sembilan tahun yang *ehhem cukup menyedihkan dan tentunya membosankan. masa kecil yang sangat serius, dengan kebahagiaan yang limit. Tidak seperti yang dilakukan anak-anak seusiaku pada saat itu. pergi sekolah, aku diantar, ditunggu sampai bel pulang sekolah, langsung pulang kerumah. coba kalian bayangkan, aktivitas yang sama di setiap hari selama 9 tahun. bayangkan,

12 Fakta Unik Kartun Doraemon

Siapa sih yg nggak kenal Doraemon? Tokoh titular robot kucing yg lucu & menggemaskan ini memang sdh jadi sebuah sosok “Lintas Generasi.” Sy tanya sama Nenek, Ibu, Om, Tante, dll dari saya saja.. semua segera tahu & tanggap plus pasang senyum sumringah kalau ditanya atau suruh membahas soal tokoh anime/manga besutan duo Fujiko Fujio ini.