Skip to main content

Posts

BU, AKU TIDAK PULANG

Bu, aku tidak pulang. Aku merindukan ibu, ayah dan semua anggota keluarga kita. Walaupun ditelpon setiap hari, ditanyakan kabarnya setiap jam, aku masih merasa semuanya tak cukup ampuh mengobati rinduku. Tahun ini pertama kalinya. Pertama kalinya ramadhanku tanpa mencicipi masakan ibu. Walaupun aku masih ingat apa saja yang biasa ibu hidangkan saat sahur dan berbuka. Aku tak bisa lagi bermanja-manja meminta dibuatkan kue klepon untuk takjil. Aku pernah mencoba membuatnya disini, tetap saja buatan ibu yang paling enak. Biasanya di awal ramadhan kita selalu makan daging, aku hanya makan nasi tempe dan sepotong ayam disini, bu. Suasana sahurku juga tak ramai seperti dirumah dimana adik bungsu duduk diatas meja karena kursi kita tak cukup. Ramadhan ini ia bisa duduk di kursiku, bu. Disini aku tak bisa berebut lauk dengan ayah, ya seperti biasanya yang terjadi. Dan ibu selalu kesal melihatnya. Sekarang ibu tak kesal lagi, kan? :')

Memperbarui Hati

             Aku selalu antusias dengan lembaran baru. Dimana ada sebuah ketas kosong yang pucat. Aku ingin menghiasnya dengan tinta dan cerita. Aku ingin tulisan itu memiliki warna dan cerita sendiri: tentang dirimu. Ya, kau yang telah lama membuatku jatuh cinta. Aku sudah lama menantimu. Menunggu kau datang dengan ikhlas dan dengan sendirinya tanpa perlu kurayu, tak harus kupaksa dan terselimut aura dengan aroma cinta, lalu mengulurkan tanganmu dihadapanku, membuatku kaget, dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Hal yang lama kunanti. Entah kapan itu akan terjadi, Rama. Aku masih bisa menunggumu untuk beberapa lama. Oh iya, aku ingin minta sesuatu padamu. Jangan datang saat aku mencoba keluar dari zona nyamanku yang satu ini, ya. Aku ingin mencari rasa yang baru, walaupun tak bersamamu. Atau mungkin yang lebih pantas disebut “saat aku mulai bosan menantimu”. Kau sudah lama dengan Liza, bukan? Aku sangat menunggu waktu saat kalian berdua saling menin...

Cara Senja Menjawab Cinta

Beberapa kali aku membolak balikkan tubuhku diatas kasur sambil memejamkan mata, tapi percuma. Masih saja tak kukenal kantuk sedikitpun. Jam digital yang terpajang apik diatas meja sudah menunjukkan pukul 03:45. Aku tahu, Senja yang telah menyita rasa kantukku. Benarkah? secepat itu? ini bisa saja terjadi. Senja? Ya, gadis yang baru kuajak kenalan di perpustakaan tadi siang. Gadis yang sebelumnya ku sebut anak sastra indonesia. Bagaimana tidak, sejak pertama kali aku melihat gadis itu, jelas-jelas ia sedang membaca buku-buku sastra. Ternyata aku salah, Senja adalah mahasiswi psikologi semester 2. Tapi mengapa ia membaca buku tentang sastra? Penelusuranku belum sampai sana.

Jatuh Cinta

Aku ingin jatuh cinta. Ya. Aku ingin jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali. Tanpa aku merasa resah, rasa ini menjadi berkurang dan berangsur menghilang. Memudar seiring waktu, menghilang tanpa jejak, hangus tak berbekas, tak terasa lagi. Aku ingin jatuh cinta pada waktu ketika kau tersenyum. Membuat duniaku berhenti sesaat. Merasakan sesuatu yang tak terkatakan, dan aku yang menentukan kapan waktu boleh berputar kembali. Demi terus melihat senyumnya. Bagiku, cinta itu tak perlu muluk-muluk. Tak perlu dia membuatkan masakan untukku setiap hari. Cukuplah sebaris kata, “selamat pagi” setelah mentari menyapa bumi. Menghangatkan hati yang terkadang beku oleh sinisnya malam hari. Lebih dari cukup, lukisan senyum dan sapaan, “selamat siang” , ketika fajar pergi dan berganti riuh manusia-manusia yang terjebak dunia serta segala keangkuhannya. Ketika senja tiba, kau tak perlu datang dengan banyak kata, cukup hadirmu saja, itu sudah lebih dari cukup. Aku terlalu melankolis ba...

Hai Sandra: Curhatan untuk Tami

Cerita Sebelumnya:  Hai, Sandra : Kita Sahabat Selamanya Aku menulis sebuah draft email yang belum akan kukirim pada Tami. aku ingin mengirimnya, tapi aku takut sama seperti email-email sebelumnya. tak ada balasan. ya, aku sudah berkali-kali mengirim email padanya, tapi tak pernah kudapat sebuah balasan. semenjak Tami bertolak, ia baru sekali membalas emailku. itupun butuh waktu 2 minggu bagiku menunggu balasan darinya. aku tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. mungkin ia sedang sibuk disana, jadi ia tak sempat membalas emailku. aku hanya mencoba berpikir positif saja. aku mulai merangkai alfabet untuk Tami baca. banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya: "seperti apa kabar? gimana disana? makanannya? orang-orang sana gimana? lu tinggal sama siapa aja? ada orang Indonesia juga?" dan satu pertanyaan penting yang selalu kutanyakan pada tami lewat kata-kata dalam hati, "kapan pulang?". aku juga ingin cerita banyak hal. mengenai sekolahku disini, tem...

kurasa, aku tak perlu ...

Seharusnya aku tak berharap banyak dengan hubungan ini. aku telah salah dengan semua hati yang kau titipkan, namun akhirnya kau ambil lagi tanpa izin dariku. aku sudah tak percaya dengan semua teori jatuh cinta. itu kesalahan pertama yang kubuat: percaya pada pandangan mata. cinta itu bukan hanya masalah 'dari mata turun ke hati' dimana kata otak sama sekali tak berperan disana. tapi bukankah otak dan hati adalah partner kerja yang solid? aku terus mempermasalahkan hal yang dibantah semua orang.

Cinta Alon-Alon - II

Sambungan dari:  Cinta Alon-Alon “Halo.” Banyu mengangkat telpon yang menghampiri ponselnya. “Halo. Ini Banyu?” Seorang pria bicara diujung sana. “Iya, bener. Ini siapa, ya?” Tanyanya. “Ini gue, Martin.” Jawab pria itu. “Ooh, lo Tin. Udah di Jakarta ya?” Tanya Banyu antusias. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. “Iya, gue udah 2 hari disini. Malem ini cabut, yuk!” “Boleh, boleh. Nanti lo kerumah gue aja. Masih inget dong?” “Ya masih lah. Oke, ntar malem, ya.”