Skip to main content

Posts

Sapardi Tak Mendegarku

"tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni" begitu kata Sapardi Sapardi tak tahu setabah apa diriku. berdiri diatas benang bergoyang. ditambah harus ikhlas ditinggalkan―olehmu Ia tak lihat seberapa hapir gilanya aku yang tiap hari menangis diatas peti-mu Sekalipun jasadmu tak menghuninya "dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu" Aku melakukan hal yang sama Kini rinduku menjadi pedang bagiku sendiri Mungkin sebentar lagi akan memenggal kepala tuannya "tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu" Sapardi, hujan bulan juni-ku tak seindah larik sajakmu Suram, seperti yang dikatakan orang-orang di hadapanku Menggerus senyum "tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu "  kalimatku hanya terpenjara di tenggorokan Aku hampir mati melumat kalimatmu, mungkin aku akan b...

Maaf: Balasan Untuk Dygta

Cerita Sebelumnya:  Pertanyaan Untuk Fa Kabarku baik, Dygta. Aku juga selalu berharap kau baik-baik saja. Tidak, sekarang aku kembali tinggal di Jogja. Waktu itu aku hanya berlibur disana. Maaf, Dygta. Aku tahu itu hal yang salah. Pergi diam-diam darimu. Sebenarnya juga berusaha pergi diam-diam dari hatimu. Maaf. Ada alasan yang sangat ingin kuberitahu padamu waktu itu. Kau terlalu sayang padaku. Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku. Aku takut tak bisa membalas semua yang kau beri.

Pertanyaan Untuk Fa

Hai Fa, apa kabar? Dimana kau sekarang? Bagaimana rupamu sekarang? Kata Andra ia pernah melihatmu di sebuah kafe di Bandung baru-baru ini. Apakah kau tinggal disana? Seperti faktanya, dua tahun lalu kau pergi tanpa pesan. Menghilang begitu saja. Kau tak berpamitan dengan siapapun. Kau tahu seperti apa aku jadinya?

Waktu Tidak Tepat

Laras Sudah hampir satu bulan Jogja membuatku nyaman. Pohon-pohon angsana yang menaungi jalan-jalannya juga masih begitu ramah. Setiap pagi aku menghampiri shelter di dekat lapangan mandala krida, menunggu transjogja untuk berangkat ke jalan sagan. Dari awal menapakkan kaki disini, aku merasa ada hal yg mengganjal. Hingga hari ini kita tidak sengaja bertemu. Atau mungkin memang sengaja dipertemukan.

BU, AKU TIDAK PULANG

Bu, aku tidak pulang. Aku merindukan ibu, ayah dan semua anggota keluarga kita. Walaupun ditelpon setiap hari, ditanyakan kabarnya setiap jam, aku masih merasa semuanya tak cukup ampuh mengobati rinduku. Tahun ini pertama kalinya. Pertama kalinya ramadhanku tanpa mencicipi masakan ibu. Walaupun aku masih ingat apa saja yang biasa ibu hidangkan saat sahur dan berbuka. Aku tak bisa lagi bermanja-manja meminta dibuatkan kue klepon untuk takjil. Aku pernah mencoba membuatnya disini, tetap saja buatan ibu yang paling enak. Biasanya di awal ramadhan kita selalu makan daging, aku hanya makan nasi tempe dan sepotong ayam disini, bu. Suasana sahurku juga tak ramai seperti dirumah dimana adik bungsu duduk diatas meja karena kursi kita tak cukup. Ramadhan ini ia bisa duduk di kursiku, bu. Disini aku tak bisa berebut lauk dengan ayah, ya seperti biasanya yang terjadi. Dan ibu selalu kesal melihatnya. Sekarang ibu tak kesal lagi, kan? :')

Memperbarui Hati

             Aku selalu antusias dengan lembaran baru. Dimana ada sebuah ketas kosong yang pucat. Aku ingin menghiasnya dengan tinta dan cerita. Aku ingin tulisan itu memiliki warna dan cerita sendiri: tentang dirimu. Ya, kau yang telah lama membuatku jatuh cinta. Aku sudah lama menantimu. Menunggu kau datang dengan ikhlas dan dengan sendirinya tanpa perlu kurayu, tak harus kupaksa dan terselimut aura dengan aroma cinta, lalu mengulurkan tanganmu dihadapanku, membuatku kaget, dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Hal yang lama kunanti. Entah kapan itu akan terjadi, Rama. Aku masih bisa menunggumu untuk beberapa lama. Oh iya, aku ingin minta sesuatu padamu. Jangan datang saat aku mencoba keluar dari zona nyamanku yang satu ini, ya. Aku ingin mencari rasa yang baru, walaupun tak bersamamu. Atau mungkin yang lebih pantas disebut “saat aku mulai bosan menantimu”. Kau sudah lama dengan Liza, bukan? Aku sangat menunggu waktu saat kalian berdua saling menin...

Cara Senja Menjawab Cinta

Beberapa kali aku membolak balikkan tubuhku diatas kasur sambil memejamkan mata, tapi percuma. Masih saja tak kukenal kantuk sedikitpun. Jam digital yang terpajang apik diatas meja sudah menunjukkan pukul 03:45. Aku tahu, Senja yang telah menyita rasa kantukku. Benarkah? secepat itu? ini bisa saja terjadi. Senja? Ya, gadis yang baru kuajak kenalan di perpustakaan tadi siang. Gadis yang sebelumnya ku sebut anak sastra indonesia. Bagaimana tidak, sejak pertama kali aku melihat gadis itu, jelas-jelas ia sedang membaca buku-buku sastra. Ternyata aku salah, Senja adalah mahasiswi psikologi semester 2. Tapi mengapa ia membaca buku tentang sastra? Penelusuranku belum sampai sana.